[review] TIMVTM Karya Yoris Sebastian,plus Sedikit Komentar tentang Transportasi Indonesia & Transportasi yang Aku Gunakan

00.03.00

TIME is More Valuable Than MONEY
Dampak Transportasi pada Hidup Kita
sumber gambar: http://www.gramediapustakautama.com/buku-detail/87422/Time-is-More-Valuable-Than-Money
penulis: Yoris Sebastian
Tebal: 156 halaman
Terbit: Januari 2014

  • TIMVTM (TIME is More Valuable Than MONEY) ini memang berbeda dibandingkan dengan buku-buku Yoris sebelumnya. Buku ini lebih banyak menceritakan tentang sarana-sarana transportasi, terutama di Indonesia, sejak jaman dahulu hingga transportasi masa depan.
Dalam buku ini Yoris mengajak kita untuk semakin menghargai waktu agar kita dapat memanfaatkan 24 jam per hari kita seefektif dan seefisien mungkin.

Sedikit masukan untuk buku ini (untuk Yoris):
Buku ini akan semakin bagus kalau ilustrasi dan gambarnya lebih banyak dan masukan-masukan, bagaimana kita bisa lebih efektif dan efisien memanfaatkan waktu, juga ditambahkan lagi. Karena pembahasan tentang transportasi yang sangat dominan dan masih terkesan kaku (ilmiah), serta masukan/saran untuk pembaca tidak diberi penekanan format penulisan atau desainnya.

Komentarku tentang Transportasi Indonesia
Menurutku, sistem transportasi di Indonesia masih ruwet dan belum bisa dikatakan layak untuk masyarakat Indonesia. Mengapa?
Pertama, karena sistem transportasi kita belum terintegrasi dengan baik. Lihat saja di kotaku, Semarang, transportasinya belum terencana dengan baik. Coba saja kalau bandara, stasiun, terminal dan halte saling berhubungan atau berada di lokasi yang sama.  Turun dari pesawat, bisa langsung naik kereta (atau bus kota). Turun dari kereta, bisa langsung naik bus kota untuk sampai ke tujuan. Dengan begitu, pengguna angkutan umum akan sangat terbantu, tidak perlu berjalan jauh atau kebingungan mencari angkutan.
Seperti kata Yoris, Indonesia bisa mencontoh sistem transportasi di negara-negara yang lebih maju. Mereka telah merancang sistem transportasi yang terintegrasi satu sama lain. Sistem TOD bisa menjadi alternatif sistem transportasi kita.  Transit Oriented Development (TOD) merupakan pola pembangunan tata kota yang terintegrasi dengan sistem transportasi sehingga menciptakan suatu kota yang efisien. Yang perlu dicatat dari sistem ini (Michael Bernick,1997):
  • Pusat aktivitas utama terhubung secara langsung dengan pemberhentian transit
  • Menempatkan bangunan dekat dengan sidewalk
  • Pola jalan grid yang memungkinkan berbagai tempat tujuan terhubung oleh pedestrian dengan rute yang bervariasi dan efisien
  • Meminimalisasi parkir off-street, memposisikan parkir di lantai bawah bangunan (basement) atau di belakang bangunan ketimbang di depan.
  • Menyediakan fasilitas-fasilitas pedestrian seperti lansekap yang menarik, sidewalk dengan perkerasan jalan, street furniture, overhang bangunan (sebagai kanopi) dan penyeberangan jalan yang aman
  • Menciptakan ruang terbuka publik dan plaza pedestrian yang nyaman untuk mendukung penggunaan transit.

Kedua, armada atau sarana transportasi yang ada sangat tidak layak, tidak nyaman, dan tidak aman. Banyak kita temui armada angkutan-angkutan umum, terutama bus kota, sudah tidak layak jalan namun tetap dioperasikan. Badan mobil yang hancur, berkarat, bahkan berlubang di sana-sini, armada yang sumpek dan panas terutama ketika berdesakan, adanya pengamen yang masuk terkadang mengganggu, serta rawannya kejahatan di dalam mobil, membuat penumpang tidak nyaman menggunakannya.

Ketiga, penumpang harus berlama-lama menunggu, baik itu angkutan yang lewat, ataupun keberangkatan pesawat dan kereta yang sering delay. Angkutan umum terutama bus (bus kota,  BRT/Bus Trans) di Indonesia belum terjadwal. Menunggu itu memakan waktu, sehingga waktu terbuang sia-sia dan kita tidak produktif. Tak heran bila Indonesia terkenal dengan 'jam karet'nya. Bagaimana kita bisa tepat waktu bila transportasi kita tidak lancar dan sering terlambat?

Keempat, angkutan umum sering berhenti, menaikkan dan menurunkan penumpang, di sembarang tempat. Halte-halte yang ada saat ini sangat percuma, tidak efektif.  Kemacetan sering disebabkan oleh tingkah angkutan ini, bahkan bisa menyebabkan kecelakaan. Tak dapat ditampik, hal ini juga kesalahan pengguna angkutan umum yang lebih memilih berhenti tepat di tempat tujuannya, bukannya di halte. Atau mungkin karena kurangnya jumlah halte di tempat-tempat yang stategis.

Transportasi yang Kugunakan Selama Ini
Seperti Yoris, aku juga merasa sangat beruntung telah merasakan hampir seluruh jenis transpotasi yang ada (di Semarang). Dulu aku pernah diajak ibuku naik andong/dokar, yang saat ini sudah sangat jarang kita temui. Sejak kecil ibuku sering mengajakku menggunakan angkutan umum seperti angkot dan bus untuk pergi ke suatu tempat, sehingga aku terbiasa menggunakannya walau sekarang terbilang jarang.
Angkutan umum yang saat ini paling kusukai di Semarang adalah BRT (Bus Rapit Transit).  Mengapa? Karena BRT memiliki armada yang lebih (masih) layak dan nyaman (karena berAC sehingga tidak panas), memiliki halte (shelter) dengan pemberhentian yang jelas dan telah dipetakan. Walaupun sekarang aku lebih sering menggunakan sepeda motor, aku tetap menantikan saat-saat dimana aku bisa naik angkutan ini (waktu dan kondisi yang memungkinkan). Walaupun sering kali penumpang penuh sesak di dalam, namun aku senang karena berarti pengguna angkutan umum semakin banyak.

Saat ini, BRT telah memiliki 3 koridor. (Aku baru menggunakan 2 koridor: Mangkang-Penggaron, Terboyo-Sisemut). Semoga koridor terus bertambah agar semua daerah di Semarang terjangkau oleh angkutan ini. Semoga armadanya semakin banyak sehingga kedatangan dan keberangkatan bus dapat terjadwal.

Sedikit cerita tentang transportasiku selama sekolah.
Sejak TK sampai SMA aku sudah terbiasa bersekolah jauh dari rumah. TK sampai SMP di Al-Azhar 14 Semarang (di daerah Tembalang sedangkan rumahku di daerah Mangkang). Tiap hari kami (aku, kakak, dan adekku) diantar Bapakku dengan mobil sehingga bisa lewat tol, perjalanan dari rumah ke sekolah setengah jam. Sedangkan SMAku (SMA 3 Semarang) ada di tengah kota Semarang. Kelas 1-2 aku menggunakan bus damri dan BRT, walau terkadang diantar dan dijemput Bapakku. Kelas 2 semester 2, aku dibelikan sepeda motor, jadi sampai kelas 3 aku menggunakannya untuk transportasiku.
Dan karena sudah terbiasa bersekolah jauh, saat ini (kuliah di kampus Undip Tembalang) aku tidak ngekos. Tetap nglaju dari rumah ke kampus. Walaupun banyak orang yang heran dan menyarankan lebih baik ngekos, namun dengan berbagai pertimbangan aku tetap memutuskan untuk nglaju saja.

Perjalananku dari rumah ke kampus dan sebaliknya kurang lebih 1 jam. Jadi, PP 2 jam karena naik motor. Sebenarnya bisa saja aku berangkat diantar bapakku, bareng adekku yang saat ini masih kelas 3 SMP (di SMP yang sama denganku), sehingga bisa menghemat setengah jam karena lewat tol. Tapi karena jadwal kuliah yang tidak tentu, tidak selalu pagi, dan perjalanan pulang yang lebih lama (harus naik angkot dulu baru naik BRT), aku putuskan untuk tetap mengendarai motor.

terima kasih untuk semua pembaca, dan terima kasih komennya :)
*terutama penulisnya sendiri nih. makasi ya bang Yoris*


You Might Also Like

0 comments