Postingan

[review] Cinta Tak Tepat Waktu - Puthut EA

Gambar
cover kesekian terbitan penerbit mojok Judul : Cinta Tak Tepat Waktu Penulis: Puthut EA Penerbit: EA Books Tebal: 278 halaman Kalau nggak salah tangkap, ini adalah novel non fiksi, berisi kisah cinta salah satu sahabat penulis. Tentang kisah cintanya yang tak pernah tepat waktu. Karena kisah cinta masa lalunya yang sangat menyakitkan, membuatnya seolah menjadi 'playboy'. Ada dua bagian paling menyentuh karena saking pedihnya.Walaupun sudah pernah mendengar ceritanya, membaca bab yang berisi kisah masa lalunya itu, tetap saja terasa sedih. Entahlah, nggak bisa dijelasin gimana sedihnya. Pertama, saat menceritakan tentang masa lalunya. Di saat sang tokoh utama berada dalam masa-masa sulitnya, ada seorang yang dapat membantu untuk melaluinya, namun saat ia mulai bisa melaluinya, justru kekasihnya memilih pergi. Kedua, saat tiba-tiba sang masa lalunya itu muncul kembali. Pada telepon kedua, ia mengakui bahwa ia pernah salah, dan ia sangat mencintai sang tokoh ut...

[Review] Senja, Hujan, dan Cerita Yang Telah Usai

Gambar
SENJA, HUJAN, & CERITA Yang Telah Usai Penulis: Boy Candra Penerbit: Media Kita Tahun Terbit: 2015 Buku Nonfiksi Bermula dari ajakan teman untuk berkunjung ke toko buku. Seperti biasa, kami screening buku-buku yang ada baik yang baru terbit maupun yang sudah lama. Tiba-tiba menemukan buku ini di salah satu rak, dan langsung jatuh hati pada judulnya. "Menarik," batinku. Juga tertarik pada kutipan yang tertulis di cover belakang berikut: "Mari mengenang, tapi jangan lupa jalan pulang." "Katakan kepada masa lalu: kita adalah cerita yang telah usai." Buku ini berisi tulisan-tulisan perasaan penulis berdasar kisah nyatanya. Tentang kenangan. Berikut ini, beberapa kutipan kalimat yang aku suka. "Sebab, kini kamu telah denganku. Kenangan lalu biarlah sebagai masa lalu." "Kepada kamu yang mengajak aku tenggelam dalam kebersamaan.Jangan biarkan aku nyaman, jika pada akhirnya perasaan sayang hanya sebatas angan-an...

Maaf dan Terima Kasih

Maaf untuk kata maaf juga terima kasih yang tak pernah terucap. Maaf untuk alasan yang tak pernah terungkap. Untukku, ini terlalu cepat. Tiga puluh lima hari yang berlalu, tak cukup untuk mengenal satu sama lain. Bahkan menurutku itu hanya perasaan sementara saja. Hanya karena seringnya bertemu, dan memang hanya ada aku di saat itu. Dan setelah itu akan lenyap saat sudah jarang bertemu. Terima kasih atas semua kebaikan, perhatian, dan perjuanganmu. Bahkan mungkin belum sempat terucap kata terima kasih untukmu. Maaf untuk jawaban yang kutunda hingga hari terakhir, karena ketidakinginanku merusak suasana. Dan mungkin menggantungkanmu. Maaf tak menganggapmu lebih Kata mereka, nyaman saja belum cukup. Sekali lagi, maaf dan terima kasih untuk semuanya. Semoga tak ada sakit hati di antara kita. Sekarang kau sudah bersama yang lain kan? Berbahagialah.